Kuliah di Religious Studies itu Rasanya…

Sudah satu tahun saya melewati kuliah S2 di Religious Studies (jarang-jarang nih curhat masalah beginian). Dan kemarin baru saja selesai mengurusi registrasi ulang semester tiga. Gak kerasa, sudah akan menginjak tiga semester di sini. Rasanya baru kemarin ngurusin registrasi dan kuliah Pra-Pasca. Saya kuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan rasanya sudah jadi sahabat lama yang kenal gak kenal sama universitas sendiri.

Setahun yang lalu, saya memutuskan mengambil jurusan Religious Studies. Setelah sebelumnya saya galau sendiri karena ingin hijrah dari Bandung ke kota gudeg, Yogyakarta. Tapi karena beberapa bujukan orang-orang untuk tetap stay di Bandung dan lanjut kuliah di sini, saya memtusukan tetap tinggal di Bandung dengan mengambil jurusan Religous Studies. Selain itu, saya tidak yakin dengan jurusan yang akan saya ambil di Yogya. Meskipun ngebet banget tinggal di sana, dan menghirup siang malam selama beberapa tahun di kota manis itu.

Yang belum tahu tentang Religious Studies nih saya sedikit kasih uraiannya tentang jurusan yang katanya sih cuma ada di UIN Bandung S2-nya. Di luar negeri banyak yang memberikan konsentrasi jurusan Religious Studies. Kalau di tempat lain ada yang mirip-mirip kaya di UIN Yogya, ada Agama dan Managemen Konflik, di UIN Syarif Hidayatullah juga ada tapi saya lupa apa namanya. Religious Studies hanya ada di UIN Sunan Gunung Jati Bandung, dan jangan heran kalau jurusan ini tidak banyak peminatnya. Jadi kalau kuliah di jurusan ini, kita tidak akan menemukan mahasiswa lebih dari dua puluh di kelasnya. Entah mungkin karena orientasi ke depannya tidak menguntungkan dalam dunia kerja.

Tetapi banyak hal yang saya rasakan secara pribadi ketika kuliah di jurusan yang berkonsentrasi pada penelitian agama-agama ini. Salah satunya adalah efek psikologis ketika berhadapan dengan orang yang beragama lain. Karena religous studies sudah memberikan saya gambaran yang berbeda dan pengertian yang berbeda tentang agama, saya jadi memiliki pandangan yang berbeda pula terhadap teman-teman dari agama lain. Dulu, saya termasuk orang yang anti terhadap agama lain, saya adalah orang yang tidak ingin bekerjasama lebih jauh dengan mereka. Dahulu, dalam pandangan saya mereka adalah orang-orang yang akan masuk ke dalam neraka saya. Begitulah dulu saya memandang mereka, apalagi untuk bekerjasama lebih jauh sangat tidak memungkinkan. Hal ini tidak lain karena pendidikan agama yang saya dapatkan, dan kultur di daerah saya yang memang homogen.

Setelah kuliah di jurusan ini saya menjadi paham bagaimana manusia bisa memegang agama yang berbeda, tapi perilaku mereka akan sama. Kita memiliki kecenderungan untuk pasrah kepada Tuhan, dan menempatkan diri sebagai makhluk yang tidak berdaya di hadapan Tuhan. Sebagai mahluk yang tidak berdaya di hadapan Tuhan, kita melakukan hal-hal yang membuat Tuhan senang dan menjadi hamba yang sangat taat mejauhi larangan-larangan Tuhan. Idealnya seperti itu. Seluruh manusia memiliki kecenderungan demikian.

Masalah perbedaan agama, adalah masalah sejarah yang sangat panjang. Saya percaya kepada Nabi Muhammad, karena saya membaca sejarah agama saya bahwa beliau adalah Nabi yang harus saya ikuti dan saya imani. Begitupun dengan agama lain, mereka percaya nabi-nabi mereka karena memiliki sejarah yang amat panjang dan rumit tentang kenabian mereka. Kita memiliki sejarah panjang tentang agama yang kita yakini, jadi untuk memaksakan kepercayaan kita pada kepercayaan orang lain bukanlah sesuatu yang mudah. Yang benar di kepala kita, belum tentu benar di kepala orang lain. Yang benar di budaya kita belum tentu benar di budaya orang lain.

Hal ini secara tidak langsung memengaruhi cara saya bertindak dan berfikir dalam kehidupan sehari-hari. Saya menjadi orang yang lebih toleran kepada pendapat orang lain. Sedikit demi sedikit saya mulai memberi pemahaman pada diri saya sendiri bahwa orang lain yang memiliki sifat tertentu, yang meskipun saya tidak menyukainya adalah orang yang memiliki sejarah yang lain dengan hidup saya. Jadi saya tidak bisa memandang dirinya sebagaimana saya memandang diri saya sendiri. Karena sejarah yang kita miliki sangatlah bebeda. Sejarah yang saya maksud di sini bukan berarti sejarah masa silam sebelum masehi atau apapun itu. Tetapi, sejarah yang membentuk kepribadian kita, seperti latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, dan sebagainya.

Dari Religius Studies saya belajar bagaimana mencintai perbedaan dan bagaimana mencintai sesama manusia dengan tidak memandang apa suku dan agamanya. Tapi karena kita semua adalah mahluk Tuhan yang harus saling mengenal dan saling memberi pengetahuan. Damai adalah sesuatu yang sulit didapatkan kecuali kita bisa saling memahami dan mengerti sejarah masing-masing kehidupan.

Tulisan ini saya buat karena sebentar lagi adalah World Interfaith Religious. Semoga kita bisa lebih saling memahami dan saling menyayangi dalam perbedaan semua mahluk di dunia. Tidak hanya manusia, tetapi hewan dan tumbuhan dan segala bentuk ciptaan Tuhan. Salam damai.

TIDAK SEMUA YANG KITA USAHAKAN SESUAI HARAPAN

Kawan pernahkan kalian berusaha tapi hasilnya tidak lebih baik dari orang yang kita lihat tidak banyak berusaha? Saya seringkali mengalaminya.

Setiap kali mengerjakan sesuatu, saya selalu berusaha semaksimal mungkin. Tetapi, setelah mendapatkan hasilnya, saya harus mendapati kekecewaan karena orang yang bekerja biasa-biasa saja (yang saya amati) mendapatkan hasil yang lebih bagus daripada saya. Terkadang saya berfikir, apakah saya begitu bodoh?

Untuk semacam tugas kuliah, saya selalu berusaha menulis dan tidak membuat copy paste dari internet. Saya menelusuri jurnal-jurnal dan membacanya dengan seksama. Tetapi, saat di kelas, semuanya rasanya menjadi sia-sia. Pengorbanan waktu saya tidak ada hasilnya, dan saya merasa Continue reading “TIDAK SEMUA YANG KITA USAHAKAN SESUAI HARAPAN”

Belajar dari Pelarangan Burkini (Bikini, Yes ! Burkini, No!)

Bikini, Yes! Burkini, No. Mungkin itu yang sedang Eropa inginkan saat ini. Memang terdengar agak ganjil di telinga saya ketika orang Eropa melarang pemakaian Burkini di pantai. Dan lebih menganjurkan memakai bikini. Sangat menggelikan kalau hal seperti ini didengar di Indonesia. Karena di Indonesia, bagi kebanyakan orang, kelas bawah khususnya pemakaian bikini ada dalam tatanan moral yang kurang sopan.

Burkini, adalah hal baru di telinga saya. Sebelumnya tidak Continue reading “Belajar dari Pelarangan Burkini (Bikini, Yes ! Burkini, No!)”

Belajar dari SuperWriter

Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti kegiatan pelatihan penulisan, SuperWriter I dan II. Waktu itu ada teman yang mengajak saya mengikuti kelas menulis online di Watsapp. Saya awalnya ragu,  dari beberapa penulisan online yang saya ikuti, jarang ada yang konsisten di pengurusnya sendiri. Mereka kadang Continue reading “Belajar dari SuperWriter”

Manage Your Time

Bisa dibilang saya paling susah memanage waktu, banyak tugas yang molor dan tidak tepat waktu. Dan saya rasa saya tidak bisa melanjutkannya lebih lama lagi. Bisa dibilang, hal seperti itu semacam penyakit yang terus saja dipelihara. Yang artinya, saya juga membiarkan saya menjadi orang yang berpenyakit semacam itu. Membiarkan diri menjadi budak nafsu sendiri.

Sesederhana apapun kehidupan, rasanya kita harus memaksimalkan apa yang kita miliki dan bisa kita lakukan. Bukan malah menyesali karena orang lain memiliki kehidupan yang lebih baik dari diri sendiri. Sebenarnya Tuhan memberikan porsi masing-masing terhadap kehidupan manusia. So, nikmatin saja hidup yang sedang kita miliki dan maksimalkan dengan sebaik-baiknya. Jangan banyak mengeluh dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengisi kehidupan yang lebih baik.

Saya pernah baca, entah dimana saya lupa lagi sumbernya, tapi ada yang bilang kalau kebiasaan malas-malasan itu menurun kepada anak kita nanti. Jadi, kalau si ibu malas, Continue reading “Manage Your Time”

Movie | Habibie dan Ainun (Antara Cinta dan Perjuangan)

Habibie dan ainun
 
Habibie dan Ainun. Belajar tidaklah melulu di perpustakaan, membuka-buka buku dan menghayalkan sosok sorang ilmuwan. Film, adalah salah satu cara kita belajar. Gus Dur adalah seorang hebat yang sangat senang nonton film. Ya, namun lagi-lagi bukan hanya film yang sebatas membuat penonton tertawa ataupun menangis.

Continue reading “Movie | Habibie dan Ainun (Antara Cinta dan Perjuangan)”

Drama | Drama Korea Uncontrollably Fond (Setelah Nonton Beberapa Episode)

Uncontrollably Fond adalah drama Korea yang saya tunggu beberapa bulan terakhir.. Mendengar kabar bakal ada drama terbaru Kim Woo-Bin dan Suzy, bikin penasaran bakal kaya apa ceritanya. Saat nunggu drama itu saya yakin, cerita kedua pasangan ini bakal seru dan bersaing dengan drama Descendant of The Sun yang menjadi drama paling populer di tahun ini. Song Jung Ki dalam drama Descendant of The Sun berhasil memikat pemirsa dengan pesonanya yang awet muda dan charming.

Foto Kim Woo Bin ternyata sudah mejeng di tempat download drama Korea favorit saya. Penasaran setengah mati, dan bahagia setelah dua episode drama Uncontrollably Fond  ternyat sudah siap unduh. Saya unduh deh drama unnie dan oppa yang cakep-cakep ini. Continue reading “Drama | Drama Korea Uncontrollably Fond (Setelah Nonton Beberapa Episode)”

Movie | Ada Apa Dengan Cinta 2 – Puisi Rangga Untuk Cinta

Movie | Ada Apa Dengan Cinta 2 - Puisi Rangga Untuk Cinta

Ada Apa Dengan Cinta 2 Full Movienya memang ngehits banget di tahun 2016 ini. Pasalnya banyak penggemar AADC pertama yang penasaran sama kelanjutan kisah cinta Rangga dan Cinta yang harus terpisah antara Jakarta dan New York. AADC pertama ceritanya cuma sampai perpisahan Rangga dan Cinta di bandara. Jadi pas ada kabar Ada Apa dengan Cinta 2 bakal tayang, generasi 90-an gak ada yang gak nunggu film ini.
Continue reading “Movie | Ada Apa Dengan Cinta 2 – Puisi Rangga Untuk Cinta”