essai

Jalan-jalan ke Wanaraja, Garut

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Self camera

Januari 2016 kemarin, saya dapat kesempatan berkunjung ke rumah teman di Garut. Tepatnya daerah Wanaraja. Saya sering ke Garut, tapi hanya lewat saja kalau pulang ke Ciamis. Tapi kali ini benar-benar mengijakan kaki di tanah Garut dan menghirup udaranya langsung. Untuk niat liburan, ini memang pertama kalinya datang ke Garut.

Saya dan kedua teman, salah satunya tuan rumah, berangkat dari Bandung pukul 14an, dan naik kendaraan umum elf dari Bundaran Cibiru. Rasa antusias untuk mengunjungi Garut benar-benar sudah di puncaknya. Sehingga perjalanan pun benar-benar dinikmati. Sebenarnya balas dendam, karena liburan semester hanya nongkrongin TV di rumah.

Jadi, pergi ke Garut berarti kesempatan saya untuk berlibur. Meskipun harinya sangat mepet. Tapi harus ada kata ‘liburan’ dalam cerita saya nanti di kelas. (hahaha).

Dan ini nih yang penting, liburan ke rumah temen itu gak usah bawa duit banyak. Kalaupun gak punya duit, pinjem dulu bisa kok. Aslinya. Kemarin saya hanya bawa bekal Rp. 20.000 dari Bandung, karena nekat dan ingin ‘Liburan’ saya bisa sampai ke Garut dengan selamat. Kalau gak ada temen mah, mana bisa. Jadi kalau mau jalan-jalan banyakin temen dulu. Ongkos dari Bandung ke Wanaraja, dengan tiga kali naik kendaraan umum dihitung-hitung mencapai Rp.25.000. Tapi saya tidak harus mengeluarkan uang sepeserpun untuk menuju Wanaraja. Ah, memang liburan yang sangat sederhana tapi luar biasa.

Ditengah perjalanan hujan mengguyur elf dengan derasnya. Kami pun tidak kuat menahan mata untuk tidak tidur di dalam mobil yang mengeluarkan hawa panas yang luar biasa. Tapi tetap saja, saya dan teman saya tidur pulas di dalam mobil.

Dengan menggunakan ojek, kami menempuh tanjakan. Dengan pemandangan alam yang luar biasa indah. Pohon-pohon jagung hijau berjejer rapi di kebun. Banyak tanaman sayuran yang membuat pemandangan hijau makin cantik, membuat saya bisa cuci mata. Kami sampai tepat di Wanaraja sekitar pukul 17.30 disambut dengan hawa dingin desa Wanaraja.

Biasanya kita ejek-ejekan kampung halaman, yang paling jauh kampung halamannya ya dia yang sering di bulli. Selain kampung saya, kampung teman ini juga adalah salah satunya yang sering menjadi bahan pembicaraan saat heureuy. Tapi saya harus menelan ludah, karena teman saya punya jalan yang lebih mulus daripada kampung halaman saya. Jalan di Desa Wanaraja sudah bagus, tidak banyak yang berlubang. Bahkan untuk ukuran kampung, menurut saya desa Wanaraja sudah memiliki jalan yang efisien untuk dilalui.

Sampai di rumah kami sudah tidak sabar untuk jalan-jalan di desa Wanaraja. Kami berinisiatif untuk pergi ke sawah, karena salah satu teman saya yang ikut adalah anak pantai jadi dia sangat ingin ke sawah. Maka kami putuskan untuk makan bersama di sawah, alias botram.

Hari jumat kami jalan-jalan ke sawah dengan membawa makanan dan bekal. Saya takjub dengan pemandangan di daerah persawahan itu. Dari sawah pemandangan alam yang luar biasa terlukis dengan sangat indah dan menawan. Banyak gunung seperti melindungi perkebunan desa Wanaraja. Panorama gunung yang luar biasa itu juga terasa sempurna dengan keadaan cuaca yang sedang cerah.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Dua orang temanku

Petani desa Wanaraja banyak yang berkebun. Di sawah yang saya kunjungi banyak sekali sayuran yang ditanam, seperti kubis, cabe kriting, jagung, jambu, bawang, dll. Saya merasa ada di surga sayuran, karena sayuran disana sangat hijau dan tumbuh subur. Ah, senangnya melihat alam dan manusia saling bekerjasama.

Teman saya pun mengajak saya untuk memanen kubis. Tapi sedih banget ketika saya dapati tanaman kubis yang mereka tanam ternyata tidak segar. Bapak teman saya mengatakan bahwa kubis-kubis itu dimakan ulat karena pergantian musim yang mendadak. Dari panas yang cukup panjang, kemudian hujan yang tidak terprediksi. Jadi, tanaman kubis mereka harus rela dimakan ulat dan tidak mulus. Harga pun melorot menjadi Rp.300, harga yang sangat rendah untuk petani yang setiap hari harus banting tulang memeras keringat mereka bekerja di ladang.

Pemandangan yang menyedihkan juga saya temui disana. Ada segundukan benih yang sudah siap ditanam tapi masih tidak bisa ditanam karena kekeringan. Padahal, sekarang adalah musim hujan. Tapi penduduk desa Wanaraja tidak bisa menanam benih padi itu karena kekeringan. Memang sangat aneh.

Padahal potensi air di Jawa Barat curah hujannya bisa mencapai 80 milyar ketika musim hujan dan bisa menghidupi kebutuhan hidup 17 milyar jiwa. Dan pada musim kemarau bisa mencapai 8 milyar meter kubik pertahun. Jika hutannya bagus, ada jaminan seperempat dari 80, yaitu 20 milyar kubik air bisa dihasilkan. Sedangkan kebutuhan air di Jawa Barat hanya 17 milyar kubik dan masih akan tersisa 3 persen air. Sehingga, orang Jawa Barat bisa bercocok tanam setiap tahun. Maka, tidak akan terjadi kelaparan dan kehausan.

Berarti memang ada yang salah dalam pengelolaan hutan dan tanaman di daerah kita, Jawa Barat. Karena buktinya di daerah pegunungan pun masih kekurangan air dan terjadi kekeringan sehingga penduduk tidak bisa menanam padi.

Kembali ke desa Wanaraja yang memiliki potensi alam yang luar biasa. Ternyata di daerah Wanaraja ada sebuah sumber air yang sering digunakan oleh warga untuk minum. Air itu mereka namakan “Cikupa”. Konon cikupa ini adalah sumber mata air yang masih segar dari pegunungan dan tidak terkontaminasi apapun. Sehingga warga desa Wanaraja sering mengambil air ini untuk dikonsumsi secara langsung.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Salah satu penduduk wanaraja yang sedang mengambil air Cikupa

Banyak dari warga yang mengambil air ini, termasuk dari desa tetangga. Mereka ada yang membawa galon maupun jerigen. Yang mengambil tidak hanya orang tua, tapi anak-anak pun membantu mengambil air dari sumber air ini. Teman saya bilang, kalau sekarang memang jarang yang mengambil air di Cikupa, karena terlalu jauh dan sayang waktu. Jadi mereka mengkonsumsi air yang ada di rumah, meskipun harus memasaknya terlebih dahulu.

Perjalanan menuju Cikupa memang melelakan. Kami harus melewati persawahan dan kebun yang menurun tajam. Sehingga ketika pulang turunan itu akan menjadi sebuah tanjakan yang cukup membuat ngos-ngosan. Dan saya yakin, jika hujan turun, jalan itu akan sangat licin karena hanya tanah saja.

Menikmati pemandangan alam di desa Wanaraja memang menyenangkan. Saya kira saya tidak harus liburan mahal untuk menenangkan fikiran saya. Dengan sebuah liburan sederhana, pergi ke kebun dan sawah menghabiskan waktu dengan memandang langit yang cerah. Adalah hal yang luar biasa, membuat hati dan fikiran menjadi fresh kembali.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Gunung Piramid

Saya juga orang desa dan orang tua saya adalah petani. Tapi saya tidak bisa menikmati pemandangan di Sawah. Karena tanaman palawija yang di tanam menutupi pemandangan yang ada. Sehingga, saya jarang pergi ke kebun atau sawah ketika pulang ke kampung. Jika pun pergi ke sawah atau kebun, hanya untuk membantu ibu saja. Bukan untuk menikmati liburan seperti di desa Wanaraja.

Dan satu hal yang saya dapatkan dari liburan kali ini. Bahwa bekerjasama dengan alam adalah fitrah manusia. Manusia adalah khalifah di muka bumi untuk menjaga titipan Tuhan yaitu alam. Manusia dan alam ada untuk saling memberikan manfaat sehingga nantinya bisa dijadikan sarana untuk bersyukur kepada Tuhan. Manusia ada untuk menjaga alam, bukan untuk memanfaatkan alam.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s