essai

Belajar dari SuperWriter

Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti kegiatan pelatihan penulisan, SuperWriter I dan II. Waktu itu ada teman yang mengajak saya mengikuti kelas menulis online di Watsapp. Saya awalnya ragu,  dari beberapa penulisan online yang saya ikuti, jarang ada yang konsisten di pengurusnya sendiri. Mereka kadang memberikan semangat yang menggebu-gebu pada awalnya, selanjutnya sama seperti penulisnya, jadi menurun semangatnya.

SuperWriter menjaga konsistensi dengan sangat baik. Saya kagum pada pengurusnya yang dengan konsisten dalam dua bulan memberikan motivasi penulisan atau saran-saran di Watsapp. Selain itu mereka juga menyediakan jasa konsultasi kepenulisan.

SuperWriter sebenarnya yang saya rasakan lebih melatih kita untuk konsisten dalam menulis setiap harinya. Tahap awal kita lebih dikenalkan untuk menulis hal-hal yang biasa kita temui. Seperti menulis buku harian, menulis reportase, cerpen, essai, dll. Mereka memberikan kita jangka waktu untuk menulis tema-tema yang sudah mereka persiapkan.

Banyak peserta yang gugur atau tidak bisa mengirimkan naskah tepat waktu. Saya paling sulit di bagian reportase. Saya selalu membuat berbagai macam alasan untuk tidak membuat reportase. Seperti tidak ada narasumbernya, malas keluar menemui narasumber, dll. Padahal ceritanya saya mantan jurnalis LPM Kampus, tapi untuk urusan membuat reportase ke lapangan, saya nyerah.

SuperWriter membuat peraturan, jika tidak mengirimkan naskah tiga kali maka gugur. Ini sebenarnya kesempatan yang mereka berikan yang sangat berharga bagi saya sendiri. Saya tidak mengirimkan naskah dua kali, reportase tadi. SuperWriter bahkan memberikan pelatihan ini secara gratis alias tanpa biaya. Kita cuma mesti memiliki kuota internet dan HP Android, setelah itu, nulis deh.

Untuk SuperWriter season II, ini banyak sekali yang gugur. Di bagian ini kita ditantang untuk menulis minimal 150 halaman cerita selama tiga bulan. Tidak sedikit yang gugur, bahkan dari beberapa puluh peserta, yang tersisa tidak lebih dari 6 orang. Untuk season ini, SuperWriter memperketat peraturan, kita ditantang untuk menulis minimal 2 halaman perdua hari. Dari minggu ke minggu jumlahnya semakin banyak, sampai tujuh halaman perdua atau tiga hari.

Sebenarnya ini adalah tantangan konsistensi dan pembiasaan menulis. Saya sering kewalahan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Padahal SuperWriter I tantangannya lebih ringan, paling cuma tiga hari sekali kita ditantang menulis. Tapi akhirnya saya bisa lulus SuperWriter I (Q Writing) dan II dengan langkah terseok-seok. Karena saya bukan orang yang konsisten melakukan suatu hal, jadi SuperWriter ini bagi saya sangat menantang dan memaksa saya untuk tetap menulis. Keren !

Korektor naskah tidak banyak mengoreksi isi naskah kita. Beliau lebih banyak mengoreksi EYD tulisan yang kita buat dengan sangat teliti.

Konsisten dalam menulis adalah kunci yang di ajarkan SuperWriter. Untuk menjadi penulis, jangan hanya bercita-cita dan berangan-angan tapi tidak menulis. Menantang diri sendiri adalah hal yang perlu kita lakukan. Jadi, menulis karena bakat itu menurut saya jarang, bahkan tidak ada. Penulis itu karena kita biasa, dan berusaha mengasah diri agar bisa terus memperbaiki.

Keep writing…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s